Jakarta (KABARIN) - Ilmuwan dari University of California, San Francisco, Charles Limb menegaskan bahwa musik tidak hanya soal hiburan, tapi juga punya kaitan erat dengan perkembangan otak manusia.
Pernyataan ini disampaikan dalam acara “Music and Brain” yang digelar lewat kolaborasi Kemdiktisaintek dan Tsinghua University di Kawasan Ekonomi Khusus Kura-Kura Bali, Minggu (11/1).
“Semua budaya sepanjang sejarah manusia punya musik. Ini menunjukkan musik penting secara biologis,” kata Charles.
Ia menambahkan bahwa musik memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial, sehingga aktivitas bermusik bisa jadi cara untuk melatih fungsi otak tanpa harus fokus pada kemampuan teknis atau tampil di panggung.
Sementara itu, Director of Tsinghua Lab of Brain and Intelligence, Xiaoqin Wang, menyoroti potensi riset otak yang bisa berkembang lewat kolaborasi lintas budaya.
Menurutnya, hidup di lingkungan budaya yang berbeda membuat otak memproses pengalaman secara unik, dan Indonesia bisa jadi laboratorium alami karena keragamannya.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menambahkan bahwa musik juga menjadi pemersatu masyarakat Indonesia. Ia menyebut Presiden RI Prabowo Subianto punya kecintaan besar terhadap musik dan mendukung pengembangan musik serta ilmu pengetahuan sebagai sarana memperkuat persatuan bangsa.
“Presiden Prabowo menunjukkan bahwa musik bisa menyatukan orang-orang,” ujar Stella Christie.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026